Blog, Fashion, History of Fashion, News

Pantaskah Seorang Wanita Menggunakan Jam Tangan Mekanis?

Selama ini perempuan selalu diidentikkan dengan atribut fashion seperti tas mewah maupun perhiasan untuk menunjukkan posisinya di tengah kehidupan sosial. Sedangkan kaum pria cenderung menunjukkannya lewat jam tangan mekanis, yang nilainya pun tak kalah tinggi dengan tas luks bermaterial eksotis. Ya, seperti itulah dikotomi gaya hidup antara kaum adam dan hawa yang telah langgeng di era modern ini. Akan tetapi, apakah hanya kaum pria yang “bisa” menunjukkan eksistensinya dengan seuntai jam tangan mekanis yang mewah?

 

Bertolak pada sejarahnya, arloji pertama kali dibuat justru untuk perempuan. Ia sengaja dirancang menyerupai perhiasan yang melingkar indah di pergelangan tangan. Selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, jam tangan juga memiliki fungsi lain yang unik yakni agar perempuan dapat mengecek waktu secara subtil sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain yang ditemuinya.

Bergerak ke era modern, latar belakang pasar jam tangan pun seolah berbalik posisi. Kini watchmaker lebih fokus pada kaum pria sebagai target pasar utamanya dengan rangkaian desain dan teknologi yang kental akan nuansa maskulin.

Sedangkan jam tangan untuk kaum perempuan cenderung dihadirkan sebagai ornamen pelengkap semata. Hal ini dipengaruhi oleh fakta bahwa permintaan jam tangan mekanis untuk wanita memang tidak sebesar demand yang datang dari kaum pria.

 

sepertinya, tidak ada salahnya bagi perempuan untuk mengenakan jam tangan mekanis bergaya unisex atau bahkan jam tangan pria sekali pun. Terlebih dengan semakin maraknya semangat genderless style, mengenakan jam tangan berdesain maskulin akan tetap terlihat relevan dan bahkan mampu memberikan appeal tersendiri.

 

Perempuan yang menyebut Hublot, Patek Phillipe, dan Franc Muller sebagai label jam tangan favoritnya ini mengaku bahwa ia menyukai bagaimana desain arloji pria yang berukuran besar membawa impak tampilan yang gagah ketika dilingkarkan di pergelangan tangannya yang mungil. Jukstaposisi seperti inilah yang menjadikan jam tangan mekanis memiliki nilai tambah dalam segi estetika ketika dikenakan oleh perempuan.

Pengetahuan mengenai teknologi mekanis serta kerumitan craftsmanship dari sebuah jam tangan turut menjadi faktor lain yang menjadikan mechanical watch sebagai salah satu atribut untuk merayakan semangat kesetaraan gender yang kian ramai digencarkan. Kendati mechanical knowledge acap kali diasosiasikan sebagai kecakapan yang mayoritas dimiliki oleh kaum pria, namun bukan berarti perempuan tidak bisa mempelajari dan memahaminya. Pada dasarnya baik perempuan maupun pria memiliki kapasitas yang sama untuk menyelami segenap hal yang menjadi ketertarikannya, tak terkecuali jam tangan mekanis yang kerap dianggap rumit untuk dimengerti. Baik pria dan wanita dapat sama-sama merasa empowered ketika mengenakannya.